PARIAMAN, SO--Zaman
kapal penangkap ikan jenis tonda di Pariaman tampaknya kini sudah
mendekati akan berakhir habis. Pasalnya sekarang yang masih melaut hanya
tinggal 5 buah. Itu pun keadaannya hanya sekadar bertahan dan belum ada
pilihan lain. Sementara kini terlihat di bagian dalam muara sungai sejumlah bangkai kapal-kapal tonda dibiarkan melapuk, tak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pariaman.
Demikian disampaikan salah seorang pemilik kapal tonda dan pengelola sejumlah kapal bagan, Jelok As Kalok (55) saat diminta tanggapannya Rabu (20/2) kemarin tentang sarana tangkap nelayan Kota Pariaman.
Menurut pengakuan Jelok, kapal tondanya saja kini sudah dijual. Dia sudah tak tertarik lagi mengoperasikan kapal tonda yang berpangkalan di Muaro Pariaman, karena selalu harus menanggung kerugian. “Untung dapat pembelinya dan kini dialihkan dengan membeli kapal penangkap ikan jenis bagan.”
Kondisi mulai habisnya kapal tonda sebagai kapal penangkap ikan di Muaro Pariaman, sudah terjadi sejak menjelang masuknya tahun 2000. Dimana semakin dirasakan tingginya biaya untuk melaut yang tak berimbang dengan hasil tangkap yang didapatkan.
Bahkan bukan mustahil ada kapal pulang dalam keadaan kosong tanpa ikan. Kapal yang berawakan 3 orang sekali melaut, untuk waktu melaut maksimal 7 hari itu bisa menghabiskan biaya Rp.8-9 juta. Belum dihitung biaya kerusakan yang harus diperbaiki.
Sampai akhir tahun 1999 sudah terjadi penyusutan jumlah kapal tonda secara drastis. Semula sampai puncaknya tidak kurang 75 kapal tonda yang berpangkalan di Muaro Pariaman.
Jika lagi musim tidak melaut, terutama dalam keadaan cuaca buruk, pelabuhan Muaro Pariaman akan penuh kapal tonda yang sandar. Sehingga bisa menyeberang sungai dengan hanya melewati kapal tonda. Selain hasil tangkap memuaskan, pasaran harga jual ikan menjanjikan, didukung biaya melaut masih dianggap normal.
Menanggapi kurangnya hasil tangkap yang membuat kapal tonda kini terancam habis, dikatakan Jelok As, “Selama ini dianjurkan bahwa perlu dibuat rabo atau rumpon. Memang ikan itu berkumpul di tempat itu. Namun yang bisa membuat rabo dan menangkap ikannya kapal-kapal dari luar. Kapal pukek cincin dari Sibolga,” lanjut Jelok As.
“Kita tak memiliki rabo selama ini, karena biaya tinggi dan hanya mengandalkan ikan bebas. Dengan adanya rabo, ikan bebas itu berkumpul di sana. Dengan mudah kapal luar tinggal ambil saja. Kita bernasib untung-untungan berburu ikan sampai ke Mentawai,” pungkasnya,
laporkan : @rkhi