MANINJAU, AGAM, serbaserbipessel.com--Dalam setahun ini, pondok-pondok darurat di pinggir jalan tepian Danau Maninjau kian bermunculan. Tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Tepatnya yang berada di sepanjang Jorong Gasang, Bayua, Maninjau.
Pondok-pondok berupa meja yang diatap, melindungi kuliner spesifik Danau Maninjau yang dipajang, dari panas dan hujan. Pembeli yang mereka sasar adalah wisatawan dan pengguna jalan Lubuk Basuang – Bukittinggi atau sebaliknya, yang melewati Danau Maninjau.
Pensi yang sudah dikenal sebagai dagangan yang dimasak dan diberi bumbu menjadi andalan bagi setiap pondok sebagai jualan sehari-hari. Selain diserbu penggemar juga banyak hanya sekadar ingin mencoba makanan khas itu. Kemudian palai rinuak dan rakik rinuak.
Ikan kecil danau yang dikenal dengan nama rinuak itu, juga tersedia dalam keadaan kering dan sudah digoreng. Kini pun masyarakat juga sudah mengolah ikan peliharaan jaring apung yang dikeringkan dan dikemas dalam kotak kemasan.
Menurut salah seorang pedagang, banyaknya kini pondok jual makanan khas danau, dipicu setelah melihat prospeknya bagus. Pada hari minggu dan hari libur, banyak pengunjung yang mampir ke daerah ini.
Umumnya mereka beli sebagai oleh-oleh tanda mereka sudah mengunjungi Danau Maninjau. Tetapi pedagang tak menampik, jika hari biasa penjualan mereka menurun. Namun mereka optimis, makanan seperti yang mereka jual akan ada saja peminatnya.
Dalam pantauan wartawan saat proses evakuasi bencana longsor di Kampuang Dadok, Tanjuang Sani, jumlah pesinggah rutin dan meningkat. Otomatis sebahagian pedagang penjualannya laris.
“Namanya juga dagangan seperti ini, tentu tidak akan ramai. Pokoknya ada saja yang singgah untuk belanja,” ujar seorang ibu saat ditanya mengenai transaksi jualannya, “Yang penting asal harganya wajar dan kita ramah melayani, pasti mereka mau beli,” akunya perlunya melayani pengunjung.
Adi Azwar (47) asal Sigiran, yang menetap di Kota Padang, sekali seminggu pulang kampung mengatakan, “Kalau daerah Bayua memang saat ini makin banyak dijadikan persinggahan untuk istirah. Di Bayua terdapat Masjid Tua Gasang dan masjid yang dibangun Bachtiar Chamsyah di tepi danau untuk sholat dan sekaligus pengunjung dapat membeli dan mencicipi makanan tradisionil ala Danau Maninjau. Ya, pensi, palai rinuak atau pun rakik (rempeyek) rinuak.”
Dilaporkan : @rkhi
